
Arema is "The Great" menggambarkan betapa hebat dan dahsyatnya Arema di hati Aremania. "The Great" bukan selalu "The Winning Team" tapi lebih dari sekedar itu. Kemenangan bukan segala-galanya, tapi menerima kekalahan dan menjiwai arti sebuah perjuangan adalah pedang yang tajam untuk merebut kembali tahta yang hilang. Ketika jadi pecundang dihujat, dihantam, dikritik, dikomentari, dilempar, bahkan dipisuh-pisuhi. "The Great" saya sebutkan sebagai gambaran yang sempurna, kokoh, hebat hanya karena cintanya Aremania pada Arema maka apa yang terjadi ketika Arema gagal yang muncul adalah kecewa dan sakit hati. Bahkan pilu tak terhingga harus tersingkir dari Persekampes. "The Great" tidak selamanya jadi the greatest, karena di atas langit masih ada langit, namun perlu dipahami bahwa tidak selamanya sang juara akan menjadi juara. Tapi si pecundangpun bisa jadi juara.
"The Great" Arema menjadi sisi dari kehidupan Aremania, maka selayaknya menilai Arema dari sisi positif dan berkepala dingin serta jantan dan satria (mengutip lagu Arema Voice). "The Great" punya sisi negatif, ketika sedang dipuja, diharapkan, disandarkan, diidolakan namun kandas mengakibatkan sayap2 patah ketika terbang seringkali menjadi lunglai tak berdaya. "The Great" kehilangan jati diri sosoknya yang garang terkulai tak kuasa menahan kenyataan.
"The Great" Arema yang tahun lalu kuat bagai raja singa, kokoh disinggasana selama 2 tahun melalui perjalanan panjang hampir 3 tahun dibentuk team sekaliber "The Great", ketika sayap-sayap patah termasuk pelatih maka tidak mudah mengembalikan tim ke semula, perlu waktu, perlu transisi, perlu imaginasi, perlu kecakapan, juga perlu pengalaman. Tim Barcelona yang dihuni pemain-pemain top dunia saja bisa kehilangan gelar, apalagi Arema yang bermain di Liga Indonesia penuh dengan intrik dan sinisme.
"The Great" Aremania telah mengkanibalisasi sikap dan perilaku sangar supporter di Dunia menjadi yang paling bermoral, paling tidak hal itu ditunjukkan ketika kalah di kandang sendiri di laga krusial tidak menjadikan Aremania patah sayap dan lunglai. Tegar dan kesatria "The Great" Aremania menelan kekalahan pahit yang mencetak (bosone Malang pait e wis nyetak nde gulu). "The Great" Aremania tidak perlu harus mengalami demotivasi jati diri karena kekalahan, harus disadari mengembalikan tim yang kehilangan sayap hampir 40% tidak mudah. "The Great" Aremania adalah jantung Arema, maka selayaknya perlu saling memotivasi untuk mengembalikan "The Great" menjadi real greatest football club in Indonesia.
"The Great" ayas tulis dengan diantara "..." bukan berarti selalu hebat = sempurna = kuat = kokoh, karena di atas langit masih ada langit, tapi "The Great" versi ayas; footbalism, humanism, fanatism, sportifism. Yang terakhir, "The Great" Aremania selalu berkata dalam bahasa, karena bahasa menunjukkan bangsa.
Salam satu jiwa, "The Great" Aremania always: breath for football, life for football, pray for football....
Labels: The Great AremanIA
Posted by AREMA VOICE at 10:02 AM::
![]()
--------------------oOo--------------------


0 Comments:
Post a Comment
<< Home