
Piala Asia memang menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi persepakbolaan Indonesia dan khususnya Arema. Ayas bisa mengibaratkan bahwa dalam turnamen ini sebuah pertandingan antara Kualitas Vs Spirit. Kenapa bisa begitu??
Ayas tidak menilai jika kualitas Indonesia buruk, tapi kualitas Timnas Indonesia ada di bawah tim-tim yang lain seperti Arab Saudi dan Korea. Kita hanya bisa bangga bahwa Indonesia memiliki Spirit yang lebih tinggi daripada ketiga tim yang lain. Mungkin ini karena faktor sebagai tuan rumah yang didukung penuh oleh ribuan suporter Indonesia.
Ternyata analisa ayas ini sama dengan komentator reporter Star Sport yang menyiarkan langsung pertandingan kemarin. Mereka bilang bahwa spirit Indonesia akhirnya harus berakhir karena keunggulan kualitas pemain-pemain Korea. Apapun hasil pertandingan kemarin, kita tetap bangga bahwa Indonesia yang belum teratur persepakbolaannya masih bisa memberikan perlawanan yang terhormat.
Kejadian Kualitas Vs Spirit sebenarnya terjadi juga pada saat Arema di era Sam Ikul. Permainan yang mengandalkan spirit bukanlah hal yang jelek. Terbukti Arema terus menjadi langganan 8 besar di Liga Indonesia. Tapi spirit, bukanlah sesuatu yang cukup untuk menjadi sang Juara. Kualitas adalah hal lain yang sangat menentukan. Ini poin yang penting.
Sejak Arema dalam kendali Bentoel sejak pertengahan tahun 2003, Spirit Malang yang ada tetap dijaga dengan memberikan kekuatan yang berkualitas. Hasilnya Arema kembali mentas di tahun 2004 dengan menjadi juara Divisi 1, dan kemudian menjadi Juara Copa Indonesia di tahun 2005 dan 2006. Sayang, di Liga Indonesia Divisi Utama Arema kembali menjadi langganan yang hanya cukup di Babak 8 Besar, tidak lebih. Itu berarti kualitas Arema masih halak di banding tim-tim lain (Persipura & Persik di tahun 2005 serta Persik & PSIS di tahun 2006).
Jadi bagaimana dengan Arema musim ini? Spirit dan Kualitas nampaknya belum nampak sejak Miro mengganti Bendol. Dari lini per lini kualitas masih di bawah musim lalu walau sekarang sudah ada tambahan 2 pemain Timnas Indonesia Elie & Ponaryo. Miro yang ingin mengarahkan pada gaya sepak bola Eropa Timur yang mengandalkan kebugaran fisik dan permainan cepat, belum bisa membentuk tim dengan kemampuan mobilitas tinggi dan dinamis dalam permainan.
Nah, bagaimana jika ini belum sesuai harapan? Dan bagaimana jika Mix antara Kualitas dan Spirit belum muncul (ada) dalam Arema? Inilah yang menjadi bahan diskusi yang menjadi titik berat fokus perhatian kita semua yaitu Arema dan Aremania. Tentunya dalam batasan (atau istilahnya job description dalam perkantoran) tugas dan tanggung jawab Arema dan Aremania.
Posted by AREMA VOICE at 10:08 AM::
![]()
--------------------oOo--------------------


0 Comments:
Post a Comment
<< Home